Kesimpulan Ibnu Hajar menyikapi tentang cerita Ibnu Shayyad dan Tamim ad-Dari, yang menyatakan bahwa Ibnu Shayyad bukanlah Dajjal. Melainkan Dajjal yang sesungguhnya adalah orang yang ditemui Tamim ad-Dari di sebuah pulau di Jazirah Arab. Lantas siapakah sebenarnya lelaki yang ditemui Tamim ad-Dari tersebut? Dan bagaimana dia bisa terbelenggu di pulau tersebut?Dalam hal ini, Ibnu Hajar al-Asqalani mengutip sebuah riwayat yang disampaikan oleh Nu'aim bin Hammad, salah satu guru Imam al-Bukhari, bahwa Dajjal bukanlah manusia, melainkan setan yang dibelenggu dengan tujuh puluh ikatan sejak dulu di salah satu pulau yang terletak di Negara Yaman. Namun masih belum ada riwayat yang memberi kepastian tentang siapa pembelenggunnya. Apakah Nabi Sulaiman ? atau Nabi yang lain?(Al-Asqolani, Ibnu Hajar, Fathul Bari, juz 13, hlm 328)
Melengkapi riwayat Nu'aim bin Hammad, sejarawan ternama, Ibnu Washif, menambahkan bahwa Dajjal adalah anak yang terlahir dari pasangan dukun ternama di zaman Nabi Sulaiman. Dan Nabi Sulaiman yang membelenggunya di pulau Yaman setelah bocah tersebut diberi kekuatan ghaib oleh setan.( Al-Asqolani, Ibnu Hajar, Fathul Bari, juz 13, hlm 328)
Di sisi lain, Muhammad Isa Daud, salah seorang ulama kontemporer berkebangsaan Mesir, memunculkan pendapat yang berbeda. Beliau menuturkan, bahwa orang yang terbelenggu tersebut adalah Musa as-Samiri yang muncul pada masa Nabi Musa as. Sebab menurut Muhammad Isa Daud, Musa as-Samiri dilahirkan dari orang tua yang dilahirkan dari perzinahan antar mahram. Di samping itu, Musa as-Samiri memiliki ciri-ciri Dajjal yang digambarkan oleh Rasulullah, yaitu kedua matanya tertutup.
Muhammad Isa Daud juga menambahkan, bahwa suatu hari Nabi Musa pernah bertanya kepada Musa as-Samiri prihal penyekutukannya terhadap Allah. Dan, Musa as-Samiri menjawabnya. Lalu setelah mendengar penjelasan Musa as-Samiri tersebut, Nabi Musa hanya mengutuknya agar ia menjadi makhluk yang tidak bisa menyentuh dan disentuh orang lain dan menyuruhnya pergi dengan bebas.
Tindakan Nabi Musa ini, menurut Muhammad Isa Daud mengandung tanda tanya; mengapa beliau tidak membunuh Musa as-Samiri yang jelas-jelas telah melakukan dosa besar, syirik kepada Allah? Padahal orang-orang yang termakan propagandanya (para pengikutnya) saja harus menebus dosa mereka dengan nyawa; bertaubat dengan cara bunuh diri. Sehingga dari sini Muhammad Isa Daud menyatakan, alasan yang membuat Nabi Musa membiarkan Musa as-Samiri tetap hidup tidak lain karena beliau tidak mampu membunuhnya disebabkan Musa as-Samiri adalah Dajjal.(Daud, Muhammad Isa, Dajjal Akan Muncul Dari Segitiga Bermuda, hlm 7)
Bukti lain yang mendukung hal ini menurut Isa Daud adalah, dalam al-Qur’an disebutkan (yang artinya);
“Berkata Musa: ‘Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: ‘Janganlah menyentuh (aku)’. Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya.’” (QS Thaha [20]:97)>
Menurut Muhammad Isa Daud, kalimat mau'id dalam ayat ini menunjukkan penangguhan siksaan Musa as-Samiri hingga akhir zaman nanti, yaitu hingga turunnya Nabi Isa yang salah tugasnya adalah untuk melenyapkan Dajjal dari muka bumi.
Setelah diusir oleh Nabi Musa –Masih menurut Isa Daud, Musa as-Samiri tetap berkeinginan untuk melakukan pengembaraan. Namun hal itu tidak tercapai. Dia malah kembali ke sebuah pulau yang menjadi tempat tinggalnya. Dan akhirnya dia kembli ke tanah kelahirannya Samirah dan bertemu dengan Nabi Isa. Namun dia tidak berani menampakkan mukanya di depan Nabi Isa. Iapun kembali lagi melakukan pengembaraan ke berbagai penjuru Negara Arab dari masa ke masa tanpa mengalami penuaan sedikitpun. Dan sampai akhirnya ia kembali lagi ke pulau tempat tinggalnya. Dan, pada saat Musa as-Samiri hendak melakukan pengembaraan lagi, ia dihadang oleh dua puluh Malaikat dan akhirnya dipenjara di dalam sebuah goa.
Lalu pada zaman Nabi Muhammad, ada salah satu sahabat Nabi, Tamim ad-Dari yang pernah singgah di pulau tempat tinggal as-Samiri tersebut dan iapun melihat Musa as-Samiri yang sedang dibelenggu.(Daud, Muhammad Isa, Dajjal Akan Muncul Dari Segitiga Bermuda, hlm 7)
***
Kedua pendapat di atas -Nuaim bin Hammad menyatakan bahwa Dajjal adalah dari jenis setan dan pendapat Muhammad Isa Daud menyatakan bahwa Dajjal adalah Musa as-Samiri- sama-sama memiliki kelelamahan. Sebab kedua pendapat tersebut bertentangan dengan Hadis sahih yang menjelaskan bahwa hari kemunculan Dajjal hanya berselisih tiga puluh tahun dari hari kelahirannya.(Fathul Bari, juz 13, hlm 328) Di samping juga Hadis yang menjadi sandaran Nuaim bin Hammad lemah. Maka sangat jelas sekali, bahwa Dajjal masih belum terlahir ketika itu (pada zaman Nabi Sulaiman) bahkan -mungkin - sampai sekarang.
Sementara pendapat Muhammad Isa Daud juga lemah. Sebab kalau kita merujuk pada literatur kitab tafsir klasik maupun kontemporer, kata mau'id yang oleh Isa Daud ditafsiri dengan penangguhan siksaan as-Samiri hingga akhir zaman, dengan dibunuh Nabi Isa, ternyata oleh para pakar tafsir seperti Ibnu Katsir dan al-Qurtubi, ditafsiri dengan “hari Kiamat”.(Lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz 5, hlm 314. al-Jami' Liahkmil Quran, juz 1, hlm 3610)
Menurut pakar tafsir, siksaan as-Samiri berbentuk dua macam. Pertama, penyiksaan di dunia yang ketika disentuh atau menyentuh orang lain terjangkit demam yang mengakibatkan ia mati. Kedua, siksaan akhirat.
Lebih lanjut, berdasarkan keterangan dalam kitab al-Jâmiul li ahkâmil Qur’ân lil Qurthûbi halam 3609, juz I, sebenarnya Nabi Musa membiarkan as-Samiri tetap hidup meski ia telah syirik, bukan disebabkan karena ketidak-mampuan beliau membunuhnya. Bahkan beliau sudah hendak melakukannya, tapi ada larangan dari Allah. >
Menurut al-Alusi, hukuman tidak bisa disentuh dan menyentuh orang lain untuk as-Samiri sudah lebih setimpal dengan perbuatannya. Sebab as-Samiri menjadi syirik sebab ia memiliki kekuatan sentuhan ajaib menghidupkan benda mati. Maka sangat setimpal sekali jika kematiannya diakibatkan hal yang sama; akan terjangkit demam mematikan saat menyentuh dan disentuh orang lain. (Tafsir al-Alusi, juz 12, hlm 259.)
Selain itu, Hadis sahih yang menjelaskan kemunculan Dajjal berselisih tiga puluh tahun dari hari kelahirannya menjadi dalil kuat bahwa Ibnu Shayyad yang hidup di masa Nabi Muhammad adalah Dajjal, apalagi as-Samiri yang telah terlahir sejak masa Nabi Musa.
Dengan ini jelas bahwa Dajjal bukanlah Musa as-Samiri yang hidup pada masa Nabi Musa. Maka kemungkinan yang terkuat adalah Dajjal masih belum lahir pada masa Nabi Musa dan Nabi Muhammad. Dajjal masih akan terlahir. Dia aka dilahirkan oleh ibunya di tanah Mesir.(Hal ini mengikuti riwayat Abu Nua'im dari Ka'bul Ahbar. Lihat Fathul Bari, juz 13, hlm 328)
Lantas apakah Dajjal sekarang sudah terlahir ? Hanya Allah yang tahu. Namun yang pasti, sebelum Dajjal yang sesungguhnya muncul, akan muncul terlebih dahulu orang-orang Dajjal-dajjal ‘palsu’. (Buletin IstinbaT edisi 205)
>Mukhtar Syafaat/
>Ketua LPSI Kuliah Syariah PPS 1431 H-1432 H






0 komentar:
Posting Komentar